Tembi, Sebuah Kenangan Ulang di Yogyakarta

Tembi, menghantarkan ingatan beberapa dari kami akan awal kali menginjakkan kaki di salah satu event musik jazz belasan tahun lalu, Ngayog Jazz. 10 – 12 Juni 2022 lalu, delegasi Komunitas Mata Hati kembali menyabani Kota Gudeg dan mampir ke Tembi lagi. Suara jengkrik dan belalang kembali menyapa telinga-telinga yang telah rindu nuansa pedesaan. Berbeda dengan agenda bertahun-tahun lalu itu, kedatangan kami tak disambut dendang suara musik dari berbagai instrumen. Ret Dog, seekor anjing yang ramah menemani Dav sang mbaurekso Yabbiekayu, sebuah penginapan bernuansa Jawa nan megah menyambut kedatangan kami.

Ini pengalaman baru bagi beberapa teman2 disabilitas netra yang gemar menjelajah tempat2 baru. Tak hanya perkara tempat yang aksesibel semata, tantangan dari tempat yang “tak askesibel” justru membangkitkan kurius kawan2 KMH. Dikelilingi saluran air di tiap sisnya mengharuskan insan disabilitas netra berhati2 dalam berjalan. Namun demikian, hal itu tak mengurangi keasyikan mereka dalam berwisata di situ. Merabai tembok dengan gebyok yang tak mudah ditemui pada keseharian di tempat asalnya. Menu sarapan yang organik di keesokan paginya, memanjakan rasa pedusunan terhantar ke lidah-lidah yang biasanya mencecap citarasa MSG. Hingga di siang hari, panasnya mentari selepas anggota komunitas melakukan tanam bunga bersama menjadi salam perpisahan KMH dengan desa Tembi. Tembi dengan Yabiekayu, Dav dan dua sahabat anjinganya, Ret Dog dan Scoby, yang tak hentinya berlari menyapa satu per satu pengunjung yang ditemuinya. Berharap bisa suatu saat kembali lagi bertemu dengan kesejukan hawa pedesaan di tepian Jogja yang dibumbui sapaan ramah penduduk dan teman baru kami: Ret Dog dan Scoby yang senantiasa setia menjaga tuannya, Dav.

Leave a Reply