TANPA JUDUL

Siang itu kami ketemu Wiwin. Sengaja. Sambil makan siang kami ajak dia ngobrol. Topiknya memang Kartini. Tuna netra, sebatang kara, alami gangguan kesehatan pada reproduksi. Pas. Klop benar kondisi penyanyi stasiun ini  kami pilih sebagai teman papa untuk ngobrol tentang seputar Kartini, cita-cita dan emansipasi.

Merdeka itu kata pertama yang ndak dipahami Wiwin apalagi emansipasi.  Dia kenal Kartini sebagai “anak Rembang, pembela wanita Indonesia”.  Pendek saja. Kartini punya cita-cita perempuan Indonesia berpendidikan dan sekolah tinggi.  Ini komentar gadis 22 tahun ini tentang cita-cita itu, “ndak pengen sekolah, ingin nyanyi aja”.

Gadis tidak beridentitas diri formil (KSK KTP) ini menjadi paradox di tengah kita sering bicara soal kemajuan dan sejenisnya.  Tidak ingin bicara secara detail tapi yang beginian menjadi fenomena gunung es ditengah kita. Jangankan ngomong soal ini itu, coba simak komentarnya tentang pernyataan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahwa perempuan penyandang diffabilitas memang mengalami diskriminasi.  Ini komentar Wiwin, “diskriminasi, apa itu, Om”? GLODAKKKHHH…!!!!

Cacat dan tidak punya pilihan sendiri untuk berdaya menjadikan teman2 penyandang difabilitas menjadi sosok inferior, rendah diri, mudah tersinggung. “Perlu motivasi….”, begitu tandas Edi, penyandang tunet yang berkarya sebagai seorang pengajar bahasa Inggris. Edi bener. Cuman bagaimana caranya? Diskusi dengan beberapa teman akhirnya menetaslah kegiatan motivasi dengan menyebarkan selembar tulisan. Berbingkai dan bertulisan braile. Tulisan dipilih dan ditulis oleh teman tunet. Dahsyat!!!. Untuk mempercepat proses mustinya bisa menggunakan printer braile milik KMH (Komunitas Mata Hati)

Blaarrr!!!!! Ups!!! Printer kami yang dibeli dengan lebih dari 60 juta Rp alami trouble. Printer dan SDM KMH akan dikirim ke Jakarta, Singkatnya muncul nama Jose Rinaldy dan Aswar “Ipung” yang terpilih untuk mengawal perawatan printer Braille. Jose merupakan praktisi IT yang bergabung dalam kegiaan KMH sejak 2009. Ipung adalah penggiat baru di KMH dan bersekolah di SMA negri X Surabaya. Ipung selain penggebuk drumb, dia gemar bergelut dengan IT melalui computer bicara untuk tuna netra.

Untung KMH punya sedikit kas yang siap digelontorkan. Namun asas kebersamaan tetap dijunjung tinggi.  Semua boleh partisipasi, Sebagai donatur yang menitip pilihan thema kalimat motivasi dari teman2 sesama tunanetra. 2008, Seribu dua ribu pernah terkumpul hingga seratus juta. “Kirim gagasan juga boleh……………..”, itu keputusannya KMH

Di sisi lain, kembali ke wiwin, terkait dengan motivasi. Kesempatan  “sekolah” vocal di sekolah musi pun juga akan diberikan.  Wiwin akan bareng dengan Ahmad Basyir dari Pasuruan. Insya  Allah Mei 2013 akan direalisasikan. Semua boleh nitip seribu duaribu lagi, ini untuk bemo Basyir dari pasuruan. KMH menanggung sebagian besar biaya yang dikeluarkan.

Kelak kalau “sekolah” kursus vokalnya selesai, Wiwin akan menyanyi lagu “Merantau” –nya  Titik Sandora untuk Kartini….Sedangkan  Basyir akan menyanyi ”Belaian Sayang”… Hayuuuk,,, siapa pun boleh mendengarkannya di Komunitas Mata Hati……

Leave a Reply