PEL-IT (PELATIAN IT) BAGI DISABILITAS NETRA YANG INGIN

    Jumlah pengguna internet yang kian bertambah merupakan pasar bagi sejumlah matapencaharian yang berbasis teknologi di era serba online ini. Setidaknya 175,000,000 orang menggunakan internet dalam menunjang kehidupan mereka sehari-hari (https://republika.co.id/berita/qhgibx335/kominfo-pengguna-internet-di-indonesia-capai-1755-juta-jiw).

     Tak terkecuali para disabilitas penglihatan. Perkembangan teknologi belakangan ini justru membuka akses untuk banyak hal yang sebelumnya tak bisa mereka jangkau. Sebut saja penggunaan smart phone yang saat ini jadi pendukung aksesibilitas, tak ubahnya sebuah tongkat bagi disabilitas netra. Hal inilah yang mendorong Komunitas Mata Hati untuk bergerak pada sekira awal Maret 2021, melakukan need assessment pada insan disabilitas netra di Surabaya dan sekitarnya. Surfei yang diselenggarakan bekerjasama dengan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Cabang Kota Surabaya menunjukkan bahwa 96 persen insan disabilitas netra telah memiliki smart phone yang digunakan sebagai alat komunikasi dan hiburan.

     Di sisi lain, pandemi yang masih mendera negeri ini memaksa kita lebih banyak di rumah dan menggunakan jaringan internet guna memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fakta ini mendorong tumbuhnya cabang-cabang bisnis berbasis online seperti toko online dan ecommerce yang bisa jadi perluasan bidang profesi bagi disabilitas netra.

     21 – 23 Juni 2021 dipilih Komunitas Mata Hati untuk bersama-sama dengan 19 peserta disabilitas netra untuk berbagi ilmu dan ngulik seputar IT dalam bidang penjualan online. Digawangi Aswar selaku penanggung jawab kegiatan, Komunitas Mata Hati bersama Pemerintah Kota Surabaya dan USAID Mitrakunci Surabaya menyelenggarakan Pelit (Pelatihan IT) bagi tuna netra di gedung Wanita Candra Kencana Surabaya. Didampingi lima trainer yang empat di antaranya adalah insan disabilitas penglihatan, peserta diajak ngulik dan berdiskusi hingga mampu mengoperasikan aplikasi media social dan ecommerce untuk melakukan transaksi jual-beli online.

     “Saya cukup senang karena dapat tambah pengetahuan dan bisa bisnis juga ketemu teman-teman di sini” ujar Sofi, salah satu peserta ketika diminta menyampaikan pesan dan kesannya terhadap acara tersebut.

     Selain Sofi, Ade Kusuma, peserta termuda dalam pelatihan tersebut. Usianya yang masih 16 tahun bukan berarti membuatnya minder atau berkecil hati. Sebaliknya, ia Nampak sangat bersemangat sepanjang proses pelatihan. Bahkan Ade terpilih sebagai penulis copywriting terbaik untuk produk masker yang dipajangnya di etalase toko online miliknya.

     Selain materi penulisan copywriting yang disampaikan oleh danny, salah satu trainer kala itu, beberapa materi terkait penjualan berbasis online juga disampaikan, misalnya: penggunaan aplikasi cet untuk bisnis yang disampaikan oleh Nurul, pembuatan akun hingga posting produk di salah satu start up ecommerce oleh Prana Carenza, nafigasi OS Android oleh Aswar, dan business model oleh Jeson Elian, satu-satunya trainer yang belum ketahuan apa disabilitasnya hingga tulisan ini diposting. . .

     Di samping lima trainer tersebut, hadir pula seorang praktisi bisnis dan interprainer Tjahya dan Dadi Ahdian, Manajer Community development Centre PT. Telkom Indonesia Area Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Dalam paparannya, Tjahja menyampaikan cara penggunaan aplikasi pencatatan keuangan sederhana bagi UMKM yang diselipi kisah-kisah pengalaman hidupnya. Sedangkan Dadi mengungkap kisah soal perkembangan pola dunia usaha konfensional hingga modern di masa ini. Dalam paparannya, Dadi juga menceritakan perjalanan usahanya yang juga mengalami pasang-surut. Ia berpesan bahwa pengusaha sukses itu bukan soal besarnya penghasilan semata, namun bagaimana seorang pengusaha dapat bertahan.

     “Seorang sukses itu bukannya tak pernah gagal. Seribu kali ia jatuh, seribu kali ia bangkit” tandasnya bersemangat.

     Di Hari terakhir pelatihan, hadir Ketua Darma Wanita Persatuan Surabaya, Iis Hendro Gunawan. Tak sekedar memberi semangat pada setiap peserta, ia juga membeli produk yang dipresentasikan oleh beberapa peserta dalam materi Sidang (Simulasi Dagang) yang kala itu dipimpin Aswar sebagai trainer.

     “Semua peserta harus semangat! Apalagi di era teknologi semakin bisa mendukung akses sekarang ini” jelasnya.

     Pada hari terakhir pelatihan tersebut juga diumumkan kelompok diskusi terbaik pilihan para trainer dan sebaliknya, trainer terbaik pilihan peserta. Untuk kelompok terbaik disematkan pada meja tiga yang digawangi Ahmad Budianto, yang sehari-hari menjadi terapis sekaligus pengelola Klinik Terapis Sumber Sehat. Sedangkan predikat trainer terfaforit diraih Prana Carenza yang tiga hari telah mendampingi para peserta dari meja ke meja.

     Tak hanya trainer dan peserta, kesan mendalam juga dirasakan oleh para pendamping yang dengan hati telah mencurahkan segenap kepedulian, tenaga, pikiran, dan waktunya dalam mendukung kegiatan ini sehingga dapat berlangsung dengan baik. Salsa misalnya. Baginya ini menjadi pengalaman pertama dalam mendampingi disabilitas netra.

     “Senang sekali bisa bergabung di kegiatan ini. Teman-teman luar biasa sekali. Saya juga telepon Mama, cerita tentang teman-teman” ujarnya sembari agak berkaca-kaca mengekspresikan rasa terharunya.

     Tiga hari telah berlalu. Namun interaksi antara peserta dan para trainer tak berhenti di meja pelatihan. Komunikasi via grup di aplikasi chatingpun masih berlangsung. Tanya jawab hingga saling support antar peserta terus dilakukan sebagai wujud tindak lanjut pelatihan. Ini diharapkan dapat menyemangati peserta untuk lebih serius menekuni toko online yang telah mereka buat dan hasil pelatihan tak hanya sebatas greget sesaat namun bisa betul-betul bermanfaat mendukung kehidupan para peserta disabilitas netra lewat pendapatan dari jualan online-nya.

Leave a Reply