Event: Ngorek bareng Wiwin di Multihall – Telkomsel (18 Juli 2012)

Malam itu, setelah nampii di sebuah acara sosial, seperti biasa applaus untuk Wiwin bergemuruh. Sudah ratusan kali semacam itu. Sudah –mungkin- ribuan tepukan tangan mengiringi. Pertanyaan berkali kali muncul, bagaimana dia belajar menyanyi, bagaimana dia menghafal lagu, bagaimana dia menghayati lagu, bagaimana…….bagaimana…bagaimana? Angle yang sering terlewat pada

sosok Wiwin yang tunanetra……Publik malah kerap membedah kehidupan penyandang difabilitas dari sisi kesedihan, kemalangan. Media visual belakangan justru membedah dengan gaya “kasihaniati” sebagai jualan program siar. Memang ada cerita struggle nya, tetapi sebatas penyedap rasa saja. Memang menarik simpati. Cerita- cerita tentang advokasi acapkali dibumbui cerita kemalangan terlebih dahulu. Bumbu semacam itu tidak sepenuhnya salah Namun yang tidak disadari ini membuat kita lambat laun diajak menjiwai ruh kasihan itu, lemah, merajuk, sedih….Gradual, itulah cerminan yang membentuk karakter bangsa kita.

Bagi Komunitas Mata Hati, sosok Wiwin memang unik. Bukan saja karena warna suaranya, tetapi sisi lainnya. Gadis 22 tahun ini bertubuh kecil layaknya anak SD. Hanya tamatan SD pada tahun 2008 dan saat ini tinggal bersama keluarga budenya setelah dua tahun lalu sebatangkara. Gadis yang pernah menjuarai sebuah porseni tingkat SD ini, pernah pula menjalani hari-harinya mengamen di stasiun Wonokromo.
Bergabung dengan Komunitas Mata Hati (KMH) sejak 2008 dan intens sejak beberapa bulan belakangan ini, menggugah hasrat Wiwin untuk menapak maju sebagai manusia dewasa, walau perlahan prosesnya. Prolem kemandirian (mulai dari mandi, berpakaian, dan sebagainya), berani, percaya diri, sampai manner menjadi pekerjaan rumah buat semua teman di KMH. Memang sepertinya tidak semuanya dapat teratasi dengan sendirinya. KMH butuh jejaring dan perjalanan yang masih panjang buat Wiwin. Mulia dari sisi kesehatan Wiwin (baru sekali menstruasi), identitas diri, dan pendampingan lainnya.


Satu yang menarik, ada suara tentang keterbelakangan mental yang diidap oleh Wiwin. Bukan mutlak, namun hanya perkembangan kepribadian yang lambat. Akhir Juni lalu, sekelompok relawan dan mahasiswa jurusan psikologi mencoba melakukan observasi. Nasrul, salah satu pendamping dan relawan membuat catatan menarik setelah berkonsultasi dengan seniornya seorang psikolog. Wiwin tidak menderita kecenderungan keterbelakangan mental. Kebiasaannya ngomong sendiri karena pada umumnya penyandang tunet mengalami gejala waham (halusinasi ringan) karena keterbatasan visual yang dideritanya. Ada lemah kemandirian karena pola asuh yang menempatkan dia sebagai sosok yang selalu dilayani. Ada trauma tekanan yang dialami yang mengakibatkan kecenderungan stress yang mengakibatkan rasa tidak percaya diri, ketakutan dan ketidakstabilan emosinya. Nasrul dan teman-teman akan mencoba mengadakan kunjungan berkala. Pekerjaan rumahnya meliputi membangun “forgiveness” dan merasionalkan emosinya. Wiwin harus berlatih menerima dan memaafkan masa lalu dan faktor yang terlibat didalamnya. Bila tidak dia akan terjebak dalam perasaan curiga dan “reject” terhadap orang dan lingkungan baru.
Ups!, tulisan diatas hampir menjebak pada kecenderungan hal yang sedih. Memang akan memunculkan rasa haru dan simpati. Namun kita tak akan bicara soal itu melulu. Cerita tentang proses pengalaman menghafal lagu, menghayati lagu. Tentu cerita yang menarik dan lucu karena sesungguhnya hidup penyandang cacat tidak melulu bersedih.
Akhir Tahun 2010 merupakan saat –saat yang tidak terlupakan oleh seorang Wiwin. Perjalanan menembus 42 besar di pagelaran Suara Indonesia yang diadakan Trans TV membuat pengalaman baru. Mulai naik pesawat untuk pertama kali, mandi di hotel berbintang, rekaman, mengenal kata “terminal” untuk pesawat terbang. Pengalaman yang membuat Wiwin mau tidak mau harus mulai mengenal kata mandiri. Pengalaman yang seharusnya memberikan keyakinan bahwa banyak orang mendukungnya. Lebih jauh lagi, masih banyak pengalaman dan pembelajaran yang dibutuhkan. Pengalaman baru lain yang menyakinkan bahwa hidup ini tidak selaiknya hanya dihiasi cerita – cerita sedih penyandang cacat. Kelak, Winarsih – nama lengkap Wiwin, juga dapat menjadi bagian motivator bagi penyandang cacat yang belum seberuntung dia…
Denger lah lagunya, “…tak selamanya mendung itu kelabu…bintang berkelip dengan jenaka, seakan tahu arti dan rasa….”. Kidung, memang popular dinyanyikan almarhum Chrisje. Kali ini Wiwin menembangkan dengan suara khas dan teknik genggaman mic yang semakin sangkil…

* Komunitas Mata Hati – KMH *

 

Leave a Reply