kanker dan braille

KANKER DAN BRAILLE

Jumat 28 maret 2014. Pagi itu HP call center kami berbunyi. Ada suara lembut menyapa di seberang sana. Lia dari Yayasan Pratiwi. Begitu suara itu memperkenalkan diri. Rupanya kami dapat teman baru. Yayasan Pratiwi adalah sebuah lembaga yang bergerak dibidang sosial juga, yakni memberi pendidikan non formal kepada anak-anak penderita leukimia dan kanker. Singkatnya mereka meminta kami untuk mendampingi sobat-sobat relawan Pratiwi untuk belajar huruf Braille. Lhoh!? Ada apa kanker dan braille?

 

“Beberapa anak dapat menjadi tunanetra karena dampak operasi.” Tandas Lia, Koordinator. Inilah jawabannya.

Tak mau mengulur waktu. Setelah kordinasi telepon sana sini, kami dan Pratiwi sepakat pelatihan diselenggarakan 5 April 2014 pukul 09:00 WIB sampai 16:00 WIB. Danny dan Basyir ditunjuk sebagai instruktur. Sedang dari Pratiwi ada lima peserta. Lia, Citra, Diah Dwi, Diyah Wahyu dan Dhini.

Tim kecil pun bekerja mempersiapkan kebutuhan pelatihan. Gelar tikar, angkat ini itu, hingga modul dan sebagainya. Untung kami punya rekan Gandi yang fasilitator dan Basyir “prasarjana” yang berpengalaman mengajar formal sehingga penyusunan materi ajar bisa kelar sehari-semalam dan bereslah.

Sabtu 5 April 2014. Saat yang ditunggu datanglah. Sesi pertama diawali dengan reff lagu “YOU’VE GOT A FRIEND” yang dinyanyikan bertiga: Gandi, Danny, Basyir, dan dilanjut perkenalan. Sesi ini berjalan relatif lancar. Basyir memperkenalkan abjad dan angka Braille. Peserta diminta mengamati bentuk huruf dan lubang-lubang pada reglet yang harus ditusuk dengan stylus. Tak ada kesulitan berarti. Danny memberi soal. Memang lebih mudah membuat persoalan kan? Hihih

Yang menarik adalah ketika pada sesi kedua mulai ada simulasi. Peserta diwajibkan menutup matanya dengan kain yang sudah dipersiapkan. Ini bertujuan agar peserta dapat merasakan kondisi tunanetra sehingga memunculkan empati. Instruktur meminta peserta menyebutkan huruf Braille yang ditulis oleh instruktur hanya dengan meraba. Hasilnya memuaskan. Tingkat kesalahan relatif jarang. Meski membutuhkan waktu hingga 3 menit untuk tiap peserta yang masing-masing diberi empat huruf, ternyata mereka cukup menghafal abjad-abjad Braille tersebut.

Demikian juga saat sesi menulis. Peserta diminta menuliskan nama, nomor telepon dan sebuah tempat. Lalu menukarnya dengan sesama peserta sehingga mereka dapat saling koreksi. Begitulah, kesalahan juga relative kecil. Diyah Wahyu tidak memberi penanda huruf capital pada namanya, Ardhini Suryaningtyas kelupaan menulis huruf G dan semacamnya.

Sesi terakhir dipandu rekan Gandi, yang meminta peserta kembali mengenakan penutup mata dan berjalan mencari tempat yang ditentukan. Wah wah…Ada yang nabrak kursi tuh. Citra dan Lia malah jalan keluar pagar. Walau begitu instruktur dan peserta masih semangat kendati sekitar lima jam berkutat dengan huruf benjol-benjol ini. Rata-rata peserta mengaku gamang saat melangkahkan kaki.

Takut masuk lubang. Sakitnya sih nggak seberapa, tapi malu,” tukas Lia. “Kalau saya sih udah hafal tempatnya. Di situ ada meja. Saya lebih menggunakan tangan dan lewat pinggir dan meraba-raba,” tandas Dhini. Udah kayak tunanetra professional ya? Lain lagi Diah Dwi. Dia merasa terkejut jika mengenai benda-benda yang tersentuh olehnya.

Saya harap semua bisa merasakan apa yang dirasakan tunenetra. Ada sebagian orang berpendapat tunanetra tingkahnya aneh dan sebagainya. Dengan simulasi ini diharapkan semua bisa memahami mengapa mereka melakukan hal itu” papar Basyir.

Meski waktu datang, dan berlalu sampai kau tiada bertahan, semua takkan mampu mengubahku, hanya kaulah yang ada direlungku…”

Lagu “Takkan Terganti” menutup pelatihan sore itu. Kiranya Yayasan Pratiwi dapat memanfaatkan hasil pelatihan dengan optimal. Mohon maaf dari Komunitas Mata Hati atas kekurangan di sana-sini. Salam persahabatan buat teman-teman kecil yang luar biasa di bangsal kelas tiga RSUD…

Comments are closed.