FINAL TUNA NETRA & PERSONAL BRANDING Dan Parodi Tuna Netra, “SUMPAH, SAYA JAKA TARUB…” 24 Oktober 2015, Pk. 12.45-16.00 WIB

Kegiatan ini menampilkan 5 Finalis yang telah menjalani rangkaian seleksi pada 22 September 2015 di Gedung B Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur dan workshop karantina di wisma yang telah disediakan. Dalam keseharian selama dua hari, finalis “dipaksa” untuk menerapkan ketrampilan ADL (Activity Daily Living). Memasak sendiri, saling melayani satu sama lain. Membersihkan toilet, menjahit baju, mencuci baju secara manual, mengepel, menyapu dan sebagainya.

 

Dalam Workshop Finalis menjalani pembelajaran dan semi terapi tentang mental block yang biasanya menghinggapi insan disabilitas dalam upaya bertahan hidupnya. Kegiatan terapi dipandu oleh praktisi Hypnoterapi, R. Amirul Rasyied Yulianto, Psi, MCH NLP Practioner. Semua finalis diperkenalkan dengan mind programming. Sesi lainnya ialah dengan fasilitator Errol Jonathans, lebih membedah alasan strategi bagi disabilitas melakukan branding terhadap dirinya dalam bersaing dengan dunia sebagaimana yang tidak cacat lainnya.

 

Di Final setiap finalis dipersilahkan melakukan presentasi dan praktek sebagaimana ide yang disampaikannya pada tahap seleksi. Pada akhirnya finalis akan dilihat bagaimana dia mampu menjadikan potensi dan kemampuannya sebagai jalan untuk bertahan hidup kelak.

 

Acara Final dimeriahkan oleh pertunjukkan Parodi Tuna Netra “SUMPAH, SAYA JAKA TARUB”. menampilkan kolaborasi pesan, lagu dan seni theater antara penyandang tuna netra, pendamping yang bukan cacat, insan down syndrome, musik tuna daksa.

 

Parodi ini berisi pesan tentang pergeseran pola pikir insan disabilitas bahwa dunia akan terasa sempit bila banyak alasan. “Alas iku ombo, luwih ombo maning iku alasan”. Tentang keberadaan fenomena hidden children dan UU Perlindungan Anak. Yang juga berpesan bahwa semuanya tidak serta-merta selesai dengan meminta hak semata, meski akan “mengudara” UU tentang Disabilitas.

 

Harapannya para Finalis bisa menjadi potret dimasyarakat. Para disabilitas bisa berperan sebagaimana warga Negara lainnya, berkompetisi dan beraksi, bukan hanya menangisi diri.

Semangat terus ya teman…

“buka kita buka hari yang baru,

sebagai semangat langkah ke depan, jadi pribadi baru” lagu dari Elo DKK yang menyemangati kawan-kawan disabilitas menutup pagelaran.

Leave a Reply