Kegiatan NGOREK – Peduli dengan Lugu

Pengurus KMH & event Ngorek

Resah saat menyaksikan  reality show di televisi mempertontonkan sisi-sisi melas dari nara sumber apalagi jika nara sumber mengalami disabilitas, menjadi awal mula ide ini. Kuatir tayanganan  menimbulkan stigma bahwa penyandang cacat itu lemah, perlu dikasihani dan sebagainya.
Publik perlu tahu, pada kenyataannya, justru sering ditemui penyandang disabilitas hidup dengan ceria dan bekerja keras secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada yang jadi guru, dosen, buruh pabrik, juru pijat, musisi, pengusaha dan masih banyak lagi.  Namun keceriaan ini justru terkesan jarang ter-cover pemberitaan.
Publik perlu cermat, tidak gebyah uyah.  Boleh jadi tayangan itu bermaksud baik. Memberi motivasi, memberi inspirasi.  Hanya mungkin cara dan pilihan angle memberi dampak yang lain. Stigma kasihani hati pada penyandang cacat tanpa sadar  membuat dua sisi yang sama negatifnya.  Tanpa disadari bagi penyandang cacat akan mendatangkan  kodisi inferior; kerakter merasa lebih rendah dari yang lain, memang perlu mendapat perhatian berlebih, rasa minder, butuh bantuan, dan ini berujung lebih banyak  ngomong soal hak, pada hal di sisi lain sebenarnya harus diriingi kepantaasan dan memantaskan.  Sebagai pembanding, coba simak tayangan “reality show” yang berujung pada pemberian bantuan yang didahului dengan acara “nangis menangis”.  Di pihak lain, bagi masyrakat umum, secara tanpa disadari akan berpandangan bahwa kalo bertemu komunitas cacat memang perlu dikasihani dengan memberi bantuan. Kondisi ini acap dimanfaatkan pihak tertentu. Kuatirnya, bantuan, dukungan dan perhatian itu tidak tepat sasaran dan tidak tepat guna. Malah, jangan jangan menjadi bagian kontradiktif terciptanya mental inferior.
Komunitas Mata Hati pernah mengalami secara langsung. Ketika mengikuti ajang pencarian bakat di sebuah televisi, produser meminta untuk bercerita hal yang sedih untuk menangguk dukungan. Meretas keinginan sebagai penyeimbang, muncul ide membuat sebuah kegiatan.  Sebuah kegiatan interaktif yang membahas topik  komunitas cacat dengan masyarakat umum, santai, terbuka, informal, riang gembira.
Pernah mendengar kodok ngorek?  Katak mengeluarkan suara untuk memberi sinyal keberadaan dirinya kepada komunitasnya.  Sinyal itu bersahabat,  “memikat hati”, berirama. Ini menjadi obrolan sambil lalu untuk menamakan kegiatan di atas. Nama Ngorek dipilih. Lebih grass root, mengakar. Riang gembira, artinya kegiatan ini menyampaikan pesan dengan perpaduan edukasi-hiburan musik-inspirasi-informasi. Tujuannya jelas, menyampaikan pesan keberadaan komunitas cacat, perjuangan, tidak meminta dikasihani. Bahwa seseorang cacat mendapat apresiasi dan kesempatan, karena dia pantas mendapatkannya. “NGOREK” merupakan kependekan dari “Ngobrol Karo Arek-Arek” istilah bahasa Jawa Timur yang artinya berdialok dengan anak-anak. Anak-anak yang dimaksud di sini bukanlah dalam arti harfiah, tetapi istilah untuk menyebut teman-teman akrab.
——————————————————
Preview Ngorek III,
Kantor Harian Surya,  20 Mei 2012
Pendidikan Kebangkitan…
Kalau kita cacat, kalau kita berkekurangan, jangan biarkan itu menjadi atribut. Pantaskan diri kita untuk berkompetisi. Riangkan diri kita berkompetisi. Jangan biarkan orang memandang iba. Segarkan pandangan orang bahwa kita layaknya orang kebanyakan. Bahwa kita sudah berupaya memantaskan diri. Bahwa karya kita pantas dihargai. Dihargai karena pantas, bukan karena mereka iba. Lihat dan tengok riangnya Edi, si Guru Bahasa Ingrris. Lihat dan tengok, syukur dan ikhlasnya Fitri si Guru SLB. Keduanya tuna netra. Seperti scipt sebuah iklan, “nyaris tak terdengar”
 
“Tulis apa yang akan anda kerjakan, kerjakan yang anda tuliskan” merupakan rangkaian kata yang menjadi favorit Edy Aryawan. Pria lulusan  Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Unesa ini, sehari-hari menjadi guru di SLB Gedangan Sidoarjo.  Di mata muridnya, mantan guru bahasa Inggris SLBA Gebang Keputih Surabaya merupakan sosok yang riang. Suami dari Sugianti menerapkan pembelajaran yang menyenangkan muridnya. Lemah dan patut dikasihani adalah stigma yang dihindari bapak satu anak berusia 36 tahun ini.
Berbeda dengan Edy, Fitri Astuti, 30 tahun, belum diangkat sebagai PNS. Namun itu tak menghalangi kiprahnya sebagai guru di SLB di kota Pasuruan. Honor tak lebih dari 200 ribu perbulan diterimanya dengan besar hati. Peraih jawara MTQ tunanetra di Jatim ini mengusung “life is struggle” sebagai motto keseharian hidupnya. Prestasi akademis selalu melekat sejak SD sampai ketika lulus S-1 Pendidikan Luar Biasa Unesa.
Kita tak pernah tahu apakah keduanya penggemar grup Band D’masiv. Minimal lagu “Jangan Menyerah” grup band ini menjadi potret keseharian mereka. Seperti kata Fitri, ia pengen menjadi pendidik, bukan pengajar. Kiprah keduanya menjadi potret-potret keberadaan penyandang cacat yang jauh dari kata sedih dan nestapa. Kalau sepakat dengan momen Kebangkitan Nasional, ada baiknya denger kata mereka tentang pendidikan yang membangkitkan……

Leave a Reply