About & History

        April 2000 adalah bulan yang tidak pernah terlupakan bagi KMH. Kala itu Bagus Adimas dan Fitri menjadi partisipan di berbagai kegiatan Pameran Pemberdayaan Ekonomi Rakyat PB PON XV Jatim. Bright Eyes adalah nama yang diberikan pada duo Bagus dan Fitri. Walau penyandang tunet, keberadaaan dua orang siswa SLB itu acapkali mendapat apresiasi pengunjung, kualitas menisbikan rasa kasihan. Tampil pada penutupan PON XV, Juni 2000, resmi merubah Bright Eyes menjadi KMH, Kelompok Mata Hati.

Danny Heru, David, Bayu, Anggie Dwi berturut-turut bergabung. Itu terjadi sejak Juni 2000 sampai September 2002. Menggunakan formasi grup band, KMH menjadi partisipan di berbagai kesempatan. RRI Surabaya, Kadinda Jatim, TVRI Surabaya, JTV, adalah beberapa diantara sekian banyak tampilan KMH. Terlibatnya remaja normal, David (bass) dan Bayu (drum), merupakan bukti bagaimana kolaborasi antara penyandang cacat dan rekan sebayanya yang normal.

                Januari 2004, upaya KMH untuk aktualisasi dilakukan dengan mencoba membuat CD Indie label. Sayangnya, seiring tidak aktifnya Bagus dan Bayu, upaya ini berlalu. Kembalinya Fitri ke desa tempat tinggalnya, membuat gawang KMH dijaga trio Danny-Anggie-David. Kie yang bergabung pada Desember 2003 memang masih menjadi additional singer. Pada perkembangannya,  keikutsertaan David bergantian dengan Kie.

                Singkatnya… KMH mulai bersinggungan dengan Pit, April 2007. Sebuah kegiatan kampanye HIV/Aids bareng dengan mahasiswa/i Ubaya itu selanjutnya membuat bintang radio ini kemudian bergabung dalam KMH. Kegiatan yang sangat disukai Pit yakni ketika turut menjadi fasilitator pengenalan pendidikan partisipasif anak di kawasan Rungkut Surabaya. Kelak kegiatan sembilan bulan inilah yang menjadi momen bersatunya kembali Kelompok Mata Hati.

                Dua bulan setelah itu, Mei 2008, dalam pertemuan regular KMH, tercetus ide Danny. Berangkat dari latar belakang dan realitas yang ada, Danny membuat presentasi di hadapan KMH dan para relawannya. CD Indie Label dipilih sebagai kegiatan. Tujuannya menggalang dana untuk membeli printer Braille. Lega!!!!! Kegiatan yang berpadu antara tua-muda, cacat-normal, talenta, semua menunjukkan keteguhan niat berbuat untuk yang lain. Menyampaikan pesan anak negeri masih menjadi ciri khas KMH.

                Ketika sudah bertambah banyak yang terlibat, nama KMH memang bukan lagi “Kelompok” melainkan menjadi “Komunitas”. Sekarang, KMH menjadi Komunitas Mata Hati, perpaduan antara talenta anak negeri dan mereka yang peduli. Relawan bermunculan, Eka, Renny, Lisca, dan beberapa lagi yang lain. Mereka yang terlibat di dalamnya tidak pernah mempersoalkan bagaimana, apa, siapa, bentuk, jenis KMH itu. Mereka hanya anak-anak negeri yang mencoba berniat baik. Seperti kata Danny, “Kalau memang kami sudah diciptakan untuk tidak bisa melihat, biarlah orang lain melihat apa adanya upaya kami, kami akan membalasnya dengan mata hati…….”

Latar Belakang KMH

  Menurunnya kepekaan sosial memunculkan usaha perlunya untuk mengasah kepedulian sosial. Kepedulian sosial bukan berarti tanpa konsekuensi.  Sehingga diperlukan pemahaman mengenai konsekuansi bagi mereka yang terlibat.

> Keluguan dalam berkepedulian bukannya tanpa bekal. Tidak semua orang dapat melakukannya. Butuh  proses untuk menumbuhkan komitmen. Mulai dari alur berpikir, pola, kebiasaan, perilaku sampai nilai-nilai. Butuh pionir, insan-insan yang tidak membedakan asal usulnya, mau bekerja untuk kepentingan banyak orang.
Salam,

Pengurus